08 Oktober, 2009

Program Keluarga Harapan di Kabupaten Bogor

Cibinong, Media Warga Online (07/10/10). Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2008 ada peningkatan pendapatan penduduk Indonesia, dari sebesar 1.946 dollar AS (2007) menjadi 2.271 dollar AS per kapita (2008). Secara keseluruhan produk domestik bruto (PDB) 2008 adalah sebesar 514 miliar dollar AS sehingga Bank Dunia menempatkan Indonesia di urutan ke-19 dalam perekonomian dunia. Ini berarti sebuah peningkatan 325 dollar AS per kepala dalam hitungan satu tahun.

Walaupun setiap tahun pendapatan perkapita penduduk Indonesia selalu naik, akan tetapi kerentanan kemiskinan di Indonesia masih sangat tinggi. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar penduduk Indonesia, masih berpendapatan antara 1 dolar AS dan  2 dolar AS atau setara dengan 1,5 dolar AS per hari.

Untuk mengantispasi tingginya kerentanan kemiskinan di Indonesia, Pemerintah meluncurkan program Conditional Cash Transfer (CCT). CCT adalah program bantuan tunai kepada keluarga miskin dengan prasyarat anak mereka bersekolah dan balita serta ibu hamil harus mengikuti sejumlah protokol kesehatan yang telah ditetapkan. CCT di Indonesia dikenal dengan Program Keluarga Harapan (PKH). Tujuan dari PKH adalah tumbuhnya generasi penerus yang unggul, meskipun dari keluarga yang tidak mampu.

Melalui PKH, Rumah Tangga Sangat Miskin (RTSM) mendapat bantuan dana antara Rp. 600 ribu hingga Rp. 2,2 juta per tahun. Setiap RTSM mendapat alokasi dana berbeda-beda sesuai dengan kriteria masing-masing. Kriteria yang ditetapkan yakni ibu hamil/nifas, memiliki bayi hingga berusia 6 tahun dan anak usia sekolah hingga 18 tahun. Bantuan yang diberikan terdiri dari bantuan tetap sebesar Rp. 200.000, bantuan bagi keluarga yang memiliki anak SD/MI sebesar Rp. 400.000, serta bantuan bagi keluarga yang memiliki anak SMP/MTs sebesar Rp. 800.000.


Salah satu Kabupaten penerima PKH adalah Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Untuk Kabupaten Bogor jumlah alokasi dana PKH tahun 2009 yang sudah dikucurkan berjumlah Rp. 7.166.783.000. Jumlah ini merupakan pencairan tahap I yang diberikan kepada 15.300 RTSM yang tercatat sebagai penerima PKH, 400 diantaranya ibu hamil. Selain itu bantuan dana PKH juga membiayai 11.075 pelajar SD/MI atau sederajat dan 5.389 pelajar SMP/MTs atau sederajat.

Salah satu kendala pelaksanaan PKH di Kabupaten Bogor adalah data RTSM yang belum lengkap, ada sebagian RTSM yang seharusnya dapat bantuan dari PKH, tapi luput terdata. Contoh kasus terjadi di Kecamatan Cibinong sebagai salah satu wilayah yang mendapat PKH di Kabupaten Bogor  Di Kecamatan Cibinong, masih banyak RTSM yang belum mendapatkan bantuan dana PKH. Hal tersebut disebabkan data yang dipakai adalah data lama yang belum diperbaharui.

Kendala tersebut diakui oleh Nurhayati Rahmah, Fasilitator PKH Kecamatan Cibinong yang ditemui oleh Media Warga Online kemarin (06/10/10). Menurut Nurhayati setiap Kelurahan di Kecamatan Cibinong, RTSM penerima PKH jumlahnya berbeda tergantung banyaknya RTSM yang memenuhi kriteria berdasarkan data BPS. "Permasalahanya kami (Fasilitator PKH-Red) tidak mendata langsung, karena data RTSM bersumber dari BPS langsung, kami hanya mendata ulang atau cross check saja'' Ungkap Nurhayati.

Menurut Nurhayati dari 12 Kelurahan di Kecamatan Cibinong, Kelurahan Harapan Jaya adalah penerima bantuan PKH paling rendah, hanya sebanyak 6 RTSM. Sedangkan penerima bantuan paling besar adalah Kelurahan Nanggewer sebanyak 212 RTSM.

Berikut jumlah RTSM penerima dana PKH masing-masing Kelurahan di Kecamatan Cibinong Kabupaten Bogor berdasarkan data Tim Fasilitator  PKH Kecamatan Cibinong :

1. Harapan Jaya : 6 RTSM
2. Pondok Rajeg : 18 RTSM
3. Sukahati : 28 RTSM
4. Karadenan : 196 RTSM
5. Pabuaran : 101 RTSM
6. Tengah :  41 RTSM
7. Ciriung : 75 RTSM
8. Cirimekar : 11 RTSM
9. Nanggewer Mekar : 75 RTSM
10. Cibinong : 90 RTSM
11. Pakan Sari : 156 RTSM dan
12. Nanggewer ; 212 RTSM

Harapannya data penerima PKH di Kabupaten dapat diperbaharui, sehingga menjadi data yang valid dan bisa lebih memacu anak-anak dari keluarga miskin di Kabupaten Bogor untuk tetap bisa sekolah. 
(Muhamad Ridwan)

Referensi tulisan :
1. Tabloid Sambung Hati 9949 Edisi 71.
2. Data Tim Fasilitator PKH Kecamatan Cibionong
3. www.kompas.com


Sumber Foto : www.google.com

05 Oktober, 2009

Kemiskinan dan Permukiman Kumuh di Perkotaan


Oleh : *) Deden Rukmana

Kita semua menyadari bahwa kemiskinan merupakan salah satu masalah sosial di Indonesia yang tidak mudah untuk diatasi. Beragam upaya dan program dilakukan untuk mengatasinya tetapi masih banyak kita temui permukiman masyarakat miskin hampir setiap sudut kota. Keluhan yang paling sering disampaikan mengenai permukiman masyarakat miskin tersebut adalah rendahnya kualitas lingkungan yang dianggap sebagai bagian kota yang mesti disingkirkan.
Tulisan ini mencoba untuk memberikan penjelasan tentang upaya untuk mengatasi kemiskinan di perkotaan sekaligus pula untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman masyarakat miskin.

Peremajaan Kota

Pendekatan konvensional yang paling populer adalah menggusur permukiman kumuh dan kemudian diganti oleh kegiatan perkotaan lainnya yang dianggap lebih bermartabat. Cara seperti ini yang sering disebut pula sebagai peremajaan kota bukanlah cara yang berkelanjutan untuk menghilangkan kemiskinan dari perkotaan. 

Kemiskinan dan kualitas lingkungan yang rendah adalah hal yang mesti dihilangkan tetapi tidak dengan menggusur masyarakat telah bermukim lama di lokasi tersebut. Menggusur adalah hanya sekedar memindahkan kemiskinan dari lokasi lama ke lokasi baru dan kemiskinan tidak berkurang. Bagi orang yang tergusur malahan penggusuran ini akan semakin menyulitkan kehidupan mereka karena mereka mesti beradaptasi dengan lokasi permukimannya yang baru. 

Di Amerika Serikat, pendekatan peremajaan kota sering digunakan pada tahun 1950 dan 1960-an. Pada saat itu permukiman-permukiman masyarakat miskin di pusat kota digusur dan diganti dengan kegiatan perkotaan lainnya yang dianggap lebih baik. Peremajaan kota ini menciptakan kondisi fisik perkotaan yang lebih baik tetapi sarat dengan masalah sosial. Kemiskinan hanya berpindah saja dan masyarakat miskin yang tergusur semakin sulit untuk keluar dari kemiskinan karena akses mereka terhadap pekerjaan semakin sulit. 

Peremajaan kota yang dilakukan pada saat itu sering disesali oleh para ahli perkotaan saat ini karena menyebabkan timbulnya masalah sosial seperti kemiskinan perkotaan yang semakin akut, gelandangan dan kriminalitas. Menyadari kesalahan yang dilakukan masa lalu, pada awal tahun 1990-an kota-kota di Amerika Serikat lebih banyak melibatkan masyarakat miskin dalam pembangunan perkotaannya dan tidak lagi menggusur mereka untuk menghilangkan kemiskinan di perkotaan. 

Aktivitas Hijau oleh Masyarakat Miskin

Paling sedikit saya menemukan dua masyarakat miskin di Jakarta yang melakukan aktivitas hijau untuk meningkatkan kualitas lingkungan sembari menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat miskin. Seperti dapat ditemui di Indonesia’s Urban Studies, masyarakat di Penjaringan, Jakarta Utara dan masyarakat kampung Toplang di Jakarta Barat mereka mengelola sampah untuk dijadikan kompos dan memilah sampah nonorganik untuk dijual. 

Aktivitas hijau di Penjaringan, Jakarta Utara dilakukan melalui program Lingkungan Sehat Masyarakat Mandiri yang diprakarsai oleh Mercy Corps Indonesia. Masyarakat miskin di Penjaringan terlibat aktif tanpa terlalu banyak intervensi dari Mercy Corps Indonesia. Program berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan kualitas lingkungan kumuh di Penjaringan. Masyarakat di Penjaringan sangat antusias untuk melakukan kegiatan ini dan mereka yakin untu mampu mendaurlang sampah di lingkungannya dan menjadikannya sebagai lapangan pekerjaan yang juga akan berkontribusi untuk mengentaskan kemiskinan di lingkungannya. 

Sementara itu aktivitas hijau di kampung Toplang, Jakarta Barat diprakarsai oleh dua orang pemuda kampung tersebut yang juga adalah aktivis Urban Poor Consortium dan mengetahui bisnis pendaurulangan sampah. Kedua orang ini mampu meyakinkan rekan-rekan di kampungnya untuk melakukan kegiatan daur ulang sampah. Seperti yang terjadi di Penjaringan, masyarakat kampung Toplang mendukung penuh dan antusias terhadap bisnis pendaurulangan sampah ini. Malahan mereka optimis bahwa kegiatan mereka juga dapat mendaurulang sampah dari luar kampung mereka dan menciptakan lebih banyak pendapatan bagi masyarakat kampung Toplang.
Kedua aktivitas hijau tersebut adalah wujud pemberdayaan masyarakat miskin untuk meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan sekaligus mengentaskan kemiskinan. Peranan Mercy Corps Indonesia yang memprakarsai program Lingkungan Sehat Masyarakat Mandiri di Penjaringan, Jakarta Utara dan dua orang aktivis pemuda asal kampung Toplang yang memprakarsai aktivitas hijau di kampung Toplang adalah sangat vital dalam upaya pemberdayaan masyarakat ini. Tanpa inisiatif mereka, pemberdayaan masyarakat miskin tidak akan terjadi dan kemiskinan tetaplah menjadi masalah di kedua permukiman kumuh tersebut. 

Penutup

Cara untuk mengatasi kemiskinan dan rendahnya kualitas lingkungan permukiman masyarakat miskin adalah tidak dengan menggusurnya. Penggusuran hanyalah menciptakan masalah sosial perkotaan yang semakin akut dan pelik. Penggusuran atau sering diistilahkan sebagai peremajaan kota adalah cara yang tidak berkelanjutan dalam mengatasi kemiskinan.
Aktivitas hijau seperti yang dilakukan oleh masyarakat Penjaringan dan Kampung Toplang merupakan bukti kuat bahwa masyarakat miskin mampu meningkatkan kualitas lingkungan permukiman dan juga mengentaskan kemiskinan. Masyarakat miskin adalah salah satu komponen dalam komunitas perkotaan yang mesti diberdayakan dan bukannya digusur. Solusi yang berkelanjutan untuk mengatasi kemiskinan dan permukiman kumuh di perkotaan adalah pemberdayaan masyarakat miskin dan bukanlah penggusuran. 

*) Koordinator Master’s Program in Urban Studies and Planning di Savannah State University, USA.

Sumber : http://dedenrukmana.wordpress.com/